​kriminalxpost | SUMEDANG, 8 April 2026 – Suasana duka menyelimuti warga RT 01/RW 07, Kampung Ciranggon, Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Sumedang Selatan, menyusul bencana tanah longsor yang terjadi pada Rabu (8/4/2026) sekitar pukul 18.30 WIB. Berdasarkan pantauan di lokasi pada Kamis siang, kondisi permukiman tampak memprihatinkan dengan material tanah dan rumpun bambu besar yang menyapu sejumlah bangunan warga. Terlihat sebuah rumah berwarna merah muda mengalami kerusakan berat pada bagian atap dan dinding akibat hantaman material dari tebing di belakangnya.
​Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sumedang, Bambang Rianto, S.STP., M.Si., mengonfirmasi bahwa musibah ini dipicu oleh intensitas hujan yang sangat tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak sore hari. Bencana ini mengakibatkan satu orang warga bernama Pepen (63) dilaporkan meninggal dunia karena tertimbun material longsor saat berada di dalam rumah. Diduga, saat kejadian korban sedang tertidur pulas sehingga tidak sempat menyelamatkan diri, berbeda dengan anggota keluarga lainnya yang masih terjaga dan berhasil lari keluar saat mendengar suara gemuruh.

​Selain korban jiwa, empat orang anggota keluarga lainnya dilaporkan mengalami luka-luka, yakni Apong Suryani (56), Eha (37), Nizam (14), dan Nazia (3). Para korban luka segera dilarikan ke RSUD Umar Wirahadikusumah untuk mendapatkan perawatan medis dan kini telah diperbolehkan pulang. Sementara itu, seorang warga bernama Zeni juga mengalami kerugian material yang signifikan setelah kandang ternaknya tertimbun; dari total 10 ekor kambing miliknya, hanya satu ekor yang berhasil diselamatkan dari timbunan tanah.
​Hingga Kamis siang, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI-Polri, Basarnas, serta relawan warga masih terus berjibaku melakukan proses pencarian dan evakuasi di titik longsor. Namun, upaya petugas di lapangan menemui kendala besar karena akses menuju lokasi yang sangat sempit, sehingga alat berat tidak dapat dikerahkan untuk mempercepat pembersihan material. “Kami sudah berupaya maksimal, namun akses yang terbatas membuat alat berat tidak bisa masuk ke lokasi,” jelas Bambang saat ditemui di lokasi kejadian.

​Guna menyiasati kendala akses tersebut, tim evakuasi menggunakan cara kreatif dengan melibatkan komunitas kendaraan off-road. Mobil-mobil berpenggerak empat roda (4WD) dikerahkan untuk menarik material berat berupa perakaran bambu yang sangat besar menggunakan tali baja (winch). Sinergi antara petugas dan komunitas ini diharapkan dapat membongkar tumpukan material yang diduga kuat masih menimbun tubuh korban di bawah reruntuhan bangunan dan tanah.
​Proses evakuasi dilakukan dengan ekstra hati-hati mengingat kondisi tanah di lokasi masih sangat labil dan rawan terjadi longsor susulan, terutama jika hujan kembali turun. Pihak BPBD terus memantau pergerakan tanah dan kondisi cuaca demi keselamatan para personel yang bertugas di lapangan. Langkah mitigasi tetap diutamakan agar upaya pencarian korban tidak justru membahayakan nyawa tim penyelamat yang bekerja secara manual di area terdampak.
​Atas kejadian ini, BPBD Kabupaten Sumedang mengimbau seluruh masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, khususnya di bawah tebing, untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim penghujan. Warga diminta untuk segera melapor melalui layanan call center 122 Pemda Sumedang atau 110 kepolisian jika melihat tanda-tanda keretakan tanah. Hingga berita ini diturunkan, harapan besar tertuju pada tim gabungan agar jenazah korban segera ditemukan dan dievakuasi dengan layak.
