Beranda » Bapak Pers Indonesia: Tirto Adhi Soerjo

Bapak Pers Indonesia: Tirto Adhi Soerjo

kriminalxpost // Sumedang, 19 Februari 2026 – Pemerintah Indonesia menobatkan Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo sebagai Bapak Pers Indonesia. Ia memelopori jurnalisme modern melalui surat kabar Medan Prijaji pada tahun 1907. Tirto menggunakan pers sebagai senjata politik untuk membela hak-hak rakyat bumiputera. Ia juga mendobrak dominasi informasi kolonial yang selama ini membungkam aspirasi bangsa.

​Perjuangan Melalui Medan Prijaji

​Tirto mendirikan Medan Prijaji sebagai surat kabar nasional pertama milik pribumi. Media ini menggunakan bahasa Melayu pasar agar pesannya sampai ke rakyat jelata. Ia tidak sekadar melaporkan berita, tetapi juga memberikan bantuan hukum gratis kepada pembacanya. Langkah berani ini menjadikan kantor redaksinya sebagai pusat pengaduan rakyat yang tertindas.

​Melawan Ketidakadilan Kolonial

​Pena Tirto menyerang kebijakan pemerintah Belanda yang tidak adil secara langsung. Ia membongkar korupsi pejabat kolonial dan penyalahgunaan kekuasaan di berbagai daerah. Strategi ini memicu kesadaran politik massal di seluruh penjuru Nusantara. Rakyat mulai berani mempertanyakan hak-hak mereka di bawah kekuasaan asing.

​Membangun Organisasi Pergerakan

​Tirto menyadari bahwa tulisan membutuhkan dukungan aksi nyata secara terorganisir. Ia menginisiasi berdirinya Sarekat Prijaji dan Sarekat Dagang Islam untuk kemandirian bangsa. Organisasi-organisasi ini menjadi fondasi awal bagi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Melalui jalur ekonomi dan pendidikan, ia memperkuat daya tawar kaum pribumi.

​Risiko dan Pengasingan

​Keberanian Tirto memicu kemarahan otoritas keamanan Belanda yang sangat ketat. Pemerintah kolonial menjeratnya dengan hukum pers dan membuangnya ke daerah terpencil. Ia mengalami pengasingan berkali-kali di Lampung hingga Maluku karena tulisan kritisnya. Meski raga terkurung, semangat perlawanan yang ia tiupkan tetap menyebar luas.

​Akhir Hayat yang Sunyi

​Tirto menghabiskan sisa hidupnya dalam kemiskinan dan isolasi sosial yang berat. Tekanan politik kolonial berhasil menghancurkan bisnis medianya secara perlahan namun pasti. Ia wafat pada tahun 1918 di Batavia tanpa penghormatan besar dari khalayak. Namun, sejarah mencatatnya sebagai pionir yang membuka jalan bagi kemerdekaan Indonesia.

​Warisan Jurnalisme Modern

​Sastrawan Pramoedya Ananta Toer mengangkat kembali kisah hidup Tirto melalui karya sastranya. Kini, dunia pers Indonesia menjadikan nilai-nilai independensi Tirto sebagai standar moral utama. Ia membuktikan bahwa kejujuran dan keberpihakan pada rakyat adalah inti dari jurnalisme sejati. Warisannya tetap hidup dalam setiap karya tulis yang memperjuangkan keadilan publik.

Facebook Comments Box
error: Content is protected !!