Kriminalxpost // Sumedang, 10 Desember 2025 — Kegiatan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Kebencanaan PIK Kecamatan Pamulihan Tahun 2025 resmi diselenggarakan di Kantor Kecamatan Pamulihan sejak Selasa hingga Rabu, 9/10 Desember 2025, pukul 09.00 WIB, di hadiri oleh Perwakilan aparatur desa dan anggota Linmas dari 11 desa se-Kecamatan Pamulihan terlihat mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang. Kegiatan ini menjadi pembahasan hangat karena melibatkan unsur perangkat desa yang selama ini menjadi garda terdepan saat bencana terjadi.
Acara dibuka dan dipimpin langsung oleh Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sumedang, Dewi Juwita, S.Pd., S.S., M.M. Dalam penyampaian materinya, Dewi menegaskan bahwa bencana bukan sekadar urusan instansi pemerintah, melainkan persoalan bersama yang memerlukan kolaborasi multipihak. Ia menekankan bahwa aparatur desa, linmas, sekolah, hingga masyarakat umum harus memiliki kesiapan yang sama untuk bertindak cepat ketika bencana datang.

Dalam pemaparannya, Dewi menyampaikan tujuan besar dari kegiatan tersebut. “Tujuan dari kegiatan ini adalah membangun kolaborasi proteksi eksternal yang solid. Penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja; kita harus bekerja sama mulai dari tingkat desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasional,” ujarnya di hadapan peserta. Ia menegaskan bahwa kesigapan desa menjadi pondasi utama dalam meminimalkan risiko bencana.
Dewi juga menyoroti pentingnya penguatan Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana). Menurutnya, kemampuan masyarakat di tingkat desa menentukan seberapa cepat proses penyelamatan dilakukan. “Kalau Destananya kuat, ketika bencana datang tinggal seeeet, masyarakat langsung bergerak sesuai prosedur. Mereka sudah tahu tugas masing-masing, jalur evakuasi, serta langkah penyelamatan diri,” tegasnya, menekankan pentingnya ketangguhan dari unit terkecil.

Kegiatan sosialisasi ini tidak hanya diikuti oleh aparat desa dan Linmas. BPBD juga mengajak perangkat kelurahan, lembaga pendidikan, serta unsur masyarakat lain untuk memahami langkah-langkah mitigasi. “Semua elemen tersebut penting untuk membentuk masyarakat yang siaga sebelum bencana, mampu menyelamatkan diri saat bencana, dan bangkit kembali setelah bencana,” kata Dewi, menambahkan bahwa seluruh unsur masyarakat harus menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan yang terintegrasi.
Dalam kesempatan itu, Dewi juga mendorong percepatan penguatan fasilitas pendukung mitigasi, seperti penyediaan peralatan, sistem peringatan dini, dan pemetaan zona rawan. Masyarakat didorong memahami wilayahnya—mulai dari zona hijau, kuning, hingga merah—agar memahami tingkat kerawanan dan mampu mengambil langkah mitigasi sesuai kondisi. Ia menegaskan, “Sebelum bencana kita harus SIAGA, di saat bencana kita harus SELAMAT, dan setelah bencana kita harus BANGKIT.”
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari kerja ini diharapkan mampu memperkokoh jejaring komunikasi serta meningkatkan kemampuan teknis aparatur desa dan Linmas dalam penanggulangan bencana. Para peserta mengapresiasi materi yang diberikan BPBD karena sangat relevan dengan wilayah Pamulihan yang kerap berhadapan dengan risiko bencana alam. BPBD menegaskan bahwa pelatihan ini akan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat mitigasi di seluruh kecamatan di Kabupaten Sumedang.
