Beranda » Bukan Sekadar Kata-kata: Mengapa Ilmu Komunikasi Adalah Kunci Keselamatan Saat Banjir Melanda

Bukan Sekadar Kata-kata: Mengapa Ilmu Komunikasi Adalah Kunci Keselamatan Saat Banjir Melanda

Siti Faizatun Nazariyah (Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara)

Kriminalxpost // Redaksi, 13 Desember 2025 – ​Bayangkan situasi ini: Hujan deras mengguyur selama enam jam tanpa henti. Di grup WhatsApp warga, kepanikan mulai menjalar. Satu orang mengirim foto tanggul jebol (yang ternyata foto tahun lalu), sementara yang lain berteriak meminta bantuan tanpa menyebutkan lokasi jelas. Di sisi lain, tim SAR memiliki perahu karet, namun mereka tidak tahu ke mana harus memprioritaskan evakuasi karena minimnya data.

​Dalam skenario kacau tersebut, kita melihat satu kebenaran fatal: Infrastruktur yang kuat saja tidak cukup jika komunikasinya lumpuh.
​Banjir bukan hanya soal air yang meluap, melainkan juga soal arus informasi yang harus dikelola. Di sinilah Ilmu Komunikasi bertindak sebagai jembatan hidup dan mati. Mari kita bedah perannya dalam tiga fase krusial: Mitigasi, Tanggap Darurat, dan Pemulihan.

*​1. Pra-Bencana: Menerjemahkan Data Menjadi Tindakan*

​Salah satu kegagalan terbesar dalam mitigasi bencana adalah “bahasa yang tidak nyambung”. Ahli meteorologi berbicara dengan data curah hujan dan istilah teknis, sementara warga butuh instruksi sederhana: “Kapan air naik?” dan “Ke mana saya harus lari?”

​Peran Komunikasi:
​Penyederhanaan Pesan: Mengubah data hidrologi menjadi sistem peringatan dini yang mudah dipahami (misalnya: penggunaan kode warna atau sirine).
​Komunikasi Persuasif: Mengedukasi warga agar mau mengevakuasi diri sebelum air tinggi, bukan saat sudah terjebak.

*​Apa Kata Riset?*
Sebuah studi mengenai Community-Based Disaster Risk Management (CBDRM) menunjukkan bahwa sistem peringatan dini yang paling efektif bukanlah yang paling canggih teknologinya, melainkan yang dibangun melalui komunikasi partisipatif. Ketika warga dilibatkan dalam diskusi perencanaan jalur evakuasi, tingkat kepatuhan mereka saat bencana terjadi meningkat drastis dibandingkan jika instruksi hanya datang satu arah dari pemerintah.

*​2. Saat Bencana: Melawan “Infodemi” dan Hoaks*

​Ketika air naik, rumor menyebar lebih cepat daripada arus banjir itu sendiri. Fenomena ini sering disebut sebagai crisis noise. Ketidakpastian memicu kecemasan, dan kecemasan memicu penyebaran informasi palsu.

​Peran Komunikasi:
​Manajemen Krisis (Crisis Communication): Pemerintah atau lembaga terkait harus menjadi single source of truth. Informasi harus cepat, akurat, dan transparan.
​Validasi Data: Menyaring informasi di media sosial untuk memetakan titik banjir yang valid agar bantuan logistik tepat sasaran.

*​Sorotan Teori:Dalam Situational Crisis*

Communication Theory (SCCT) yang dikembangkan oleh Timothy Coombs, dijelaskan bahwa respons pertama organisasi (atau pemerintah) saat krisis akan menentukan keselamatan publik. Keterlambatan memberikan informasi valid akan langsung diisi oleh spekulasi liar yang membahayakan nyawa.

Riset media sosial saat banjir Jakarta membuktikan bahwa Twitter (sekarang X) seringkali lebih cepat memberikan real-time update dibanding saluran resmi, sehingga integrasi antara laporan warga (citizen journalism) dan respons resmi sangat vital.

*​3. Pasca-Bencana: Membangun Kembali Harapan (Trauma Healing)*

​Setelah air surut, lumpur dan trauma tertinggal. Di fase ini, komunikasi beralih fungsi dari “komando” menjadi “terapeutik”.

​Peran Komunikasi:
​Komunikasi Terapeutik: Pendekatan komunikasi interpersonal yang dilakukan relawan untuk mendengarkan keluh kesah korban, membantu mereka memproses trauma kehilangan harta benda atau keluarga.
​Koordinasi Pemulihan: Mengomunikasikan kebutuhan spesifik korban kepada donatur agar tidak terjadi penumpukan bantuan yang tidak perlu (misalnya: terlalu banyak mi instan, tapi kekurangan popok bayi).

​Kesimpulan: Komunikasi Adalah Mitigasi Non-Struktural
​Banjir mungkin adalah peristiwa alam, namun dampaknya adalah peristiwa sosial. Kita sering berfokus pada mitigasi struktural (membangun bendungan, mengeruk sungai), padahal mitigasi non-struktural—yakni komunikasi, edukasi, dan koordinasi—adalah faktor penentu seberapa cepat kita bangkit.
​Ilmu komunikasi mengajarkan kita bahwa menyelamatkan nyawa tidak selalu harus dengan mengangkat tubuh korban, tetapi bisa dimulai dengan menyampaikan pesan yang tepat, di waktu yang tepat, kepada orang yang tepat.

​Ingat: Saat bencana, informasi yang akurat sama berharganya dengan pelampung penyelamat.

Facebook Comments Box
error: Content is protected !!