kriminalxpost Sumedang, 4 November 2025 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 2 Sumedang kembali menjadi sorotan setelah sejumlah siswa dan guru mengalami gangguan pencernaan berupa mencret-mencret. Kejadian ini menimbulkan perhatian publik hingga melibatkan berbagai pihak untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
Pemaparan perwakilan humas Nuryakin “Kejadiannya hari Jumat, tanggalnya lupa Namun perlu kami tegaskan bahwa ini bukan keracunan, hanya keterlambatan makan (delay makan). Anak-anak tidak ada yang muntah tiba-tiba, hanya setelah pulang ke rumah ada yang mengalami mencret. Awalnya kami kira karena beli SEBLAK di warung temannya.

Jumlah yang terdampak lumayan banyak, dari beberapa kelas berbeda. Ada yang lima orang, tiga orang, sepuluh orang, sampai lima belas orang per kelas. Bahkan ada juga guru, sekitar lima orang. Namun tidak semuanya sampai berobat, banyak yang sembuh sendiri.
Ada juga pada orang tua siswa. Anak membawa pulang makanan yang tidak habis, diberikan ke neneknya, dan neneknya ikut mengalami mencret. Tapi sekali lagi, ini bukan keracunan, hanya masalah dalay diberikan.
Karena di berikanya sekitar jam 11 siang. Disini mengambil kebijakan di berikan jam makan siang, Jika diberikan pagi, khawatir mengganggu pembelajaran dan sebagian siswa masih membawa bekal dari rumah. Jadi dibagikan saat istirahat. Kemungkinan dibuatnya itu sejak sore, karena disimpan hampir 12 jam, sehingga kondisinya berubah. Itu hanya prediksi kami.

Karena kejadiannya hari Sabtu, pihak sekolah langsung menindaklanjuti. Wali kelas mendampingi siswa yang ke puskesmas. Bahkan Dokter Dito yang bertanggung jawab disitu juga turun langsung membuka layanan kesehatan.
Hari Senin, pihak katering dari dapur SPPG di Sacipa datang ke sekolah bersama Babinsa dan Babinmas. Dilakukan sosialisasi terkait penanganan dan evaluasi makanan.
Penyaluran makan sempat dihentikan dua hari (Selasa dan Rabu). Hari Kamis sudah kembali normal karena anak-anak tidak trauma dan tetap menantikan makanannya.
Siswa disini ada 1800 siswa, tenaga guru 100 orang, kelas tiga lagi PKL jadi kelas tiga tidak di kasih MBG tetapi guru-guru tidak di obati juga sembuh sendiri,
Tenaga guru yang terdampak sekitar 10 orang, siswa mencet-memcret lumayan banyak karena kejadianya jumat yang lalu, jam segini makan, pulanglah, dan besoknya hari sabtu mencret-mencret, ini kiriman dari sppg sacipa” ungkapnya

Program makanan ini berasal dari SPPG . Sudah berjalan lebih dari 4 bulan dan aman-aman saja. Anak-anak bahkan bisa menabung dari penghematan uang jajan. Ada yang tabungannya sampai satu juta rupiah. Jadi dampaknya sebenarnya sangat positif bagi siswa.
Menu selalu bervariasi. Saat kejadian, menunya ayam saus. Tapi anehnya tidak semua yang makan terdampak, bahkan ada yang makan dua porsi tetap sehat. Kemungkinan terkait waktu makan atau kondisi penyimpanan.
Pembagian makanan biasanya jam 11 lewat, saat istirahat. Setelah makan, anak-anak shalat dan kembali belajar.
Mulai program ini sejak bulan puasa. Saat puasa menunya masih mentahan untuk dibawa pulang, kemudian setelahnya baru makanan siap saji. Dan baru kali ini ada kejadian, ini perlu di catat juga bukan keracunan itu hanya delay makan.
Menu yang di berikan dan di konsumsi adalah ayam semacam pakai saus begitu, mungkin dari ayam tapi saya juga aneh itu tidak semua kena, nah ini yang kasihan mah sisa kan di bawa ke rumah semua, di kasihkan ke entog dan entognya mencet semua” Tambah Nuryakin kepada tim liputan sambil tertawa
Pemaparan Koordinator MBG SMKN 2 Sumedang – Bapak Fajar
Pada awal pelaksanaan program MBG, pihak sekolah diundang langsung ke dapur penyedia untuk melihat proses produksi makanan. Kami diperlihatkan kondisi dapur, proses penyiapan, hingga tahapan pencucian bahan makanan yang menurut mereka dilakukan dalam tiga tahap. Pemilik dapur juga merupakan seorang dokter, sehingga kami meyakini dari awal bahwa standar kesehatan sudah diperhatikan.
Terkait isu sertifikasi yang ramai dibahas belakangan ini, sebenarnya sejak awal kami sudah mengantisipasi potensi permasalahan. Ketika kejadian pada Jumat lalu, respons dari pihak dapur cukup cepat. Setelah siswa makan sekitar pukul 11.30, sebagian besar mulai mengalami gejala pada malam hari sekitar pukul 19.00 ke atas bahkan sampai Sabtu pagi.
Kami langsung melaporkan kejadian tersebut kepada pihak dapur. Mereka menindaklanjuti dengan menyediakan layanan kesehatan di Klinik Nadia (milik penyedia dapur) bagi siswa yang berada di wilayah kota. Sementara untuk siswa yang tinggal jauh, diarahkan ke puskesmas masing-masing. Bahkan pembiayaan penanganan kesehatan juga ditanggung langsung oleh pihak dapur.
Setelah kejadian tersebut, dilakukan evaluasi bersama dengan Dinas Kesehatan, Pemda, Koordinator MBG Kabupaten, dan pihak sekolah. Salah satu catatan penting adalah pemilihan menu. Menu ayam yang disajikan saat itu merupakan menu baru yang ternyata cukup berisiko karena teksturnya basah dan rentan basi jika terlalu lama berada di luar suhu ideal. Ke depan, pihak dapur menyampaikan komitmen untuk menyesuaikan menu, termasuk memperhitungkan durasi dari proses produksi hingga makanan dikonsumsi siswa.
Selain itu, waktu distribusi juga dievaluasi. Jika untuk SD makanan dibagikan pukul 09.00 dan pulang pukul 10.00, maka di SMA/SMK yang makan pukul 11.30–12.00 perlu penyesuaian menu maupun jadwal produksi agar tidak melampaui batas keamanan konsumsi.
Terkait siswa yang memiliki alergi, sejak awal kami melakukan pendataan. Jika siswa alergi terhadap nasi, ikan, atau telur, akan diberikan menu pengganti yang tetap sesuai gizi. Namun jika hanya sekadar tidak suka, tetap dianjurkan untuk mengonsumsi sesuai menu yang disediakan.
Saat ini jumlah penerima manfaat MBG di SMKN 2 Sumedang adalah 1.249 siswa, khususnya karena banyak siswa dari keluarga kurang mampu.
Ke depannya, harapan kami sebagai pihak sekolah adalah adanya edukasi yang terus-menerus kepada siswa terkait keamanan makanan. Misalnya, jika makanan tercium bau tidak sedap atau terlihat berlendir, maka jangan dikonsumsi. Sosialisasi mengenai penanganan awal ketika terjadi gangguan pencernaan juga sudah diberikan, seperti memperbanyak minum dan segera menuju layanan kesehatan bila gejala tidak membaik.
Kami berharap program MBG tetap berjalan dengan baik dan manfaatnya dapat dirasakan oleh peserta didik yang membutuhkan, dengan pengawasan kualitas yang semakin ketat agar kejadian serupa tidak terulang” pungkas Fajar

Pemaparan tanggapan kepala Dapur SPPG, Daman Hurip
Produksi harian saat ini sebanyak 1.688 porsi. Jarak distribusi terjauh dari dapur adalah sekitar 3,2 km.
Terkait pemilihan bahan baku, semuanya sudah sesuai standar. Bahan baku dipesan dari pihak yang memiliki legalitas dan kualitas yang terjamin. Pengawasannya dilakukan baik oleh pihak dapur maupun BUMDes.
Saat ini kami mendistribusikan makanan ke 5 sekolah, yaitu: SDN Talun, SDN Ketib, SDN Tegal Kalong, SDN Ranca Purut, SDN Ranca Mulya
Untuk SMK saat ini masih diliburkan sementara karena kegiatan UJIKOM.
Terkait kasus di SMK, kami juga sudah berdiskusi dengan pihak sekolah. Salah satu kemungkinan penyebab gangguan pencernaan adalah makanan tidak dikonsumsi tepat waktu. Ada sebagian siswa yang membawa makanan pulang dan dikonsumsi malam hari sehingga kualitas makanan menurun.

Untuk jadwal produksi, makanan untuk SD mulai dimasak pukul 06.30, sedangkan untuk SMK pukul 09.00, menyesuaikan jam makan siswa.
Kami memperhitungkan batas aman konsumsi makanan. Jika makanan untuk SMK seharusnya dimakan pukul 12.00, maka tidak boleh disimpan terlalu lama hingga melewati waktu aman tersebut.
Terkait inspeksi, kami sudah didatangi oleh pihak Dinas Kesehatan Kabupaten dan Provinsi untuk pemeriksaan dan rapat evaluasi. Proses penilaian masih berjalan, hasil sementara tidak menunjukkan pelanggaran berat. Semua masih terus ditingkatkan.
Untuk sertifikat operasional, dapur ini mulai beroperasi pada pertengahan Maret. Namun sempat libur untuk evaluasi, sehingga dalam bulan Maret baru berjalan sekitar satu minggu efektif. Saat ini masih berkoordinasi dengan Dinkes dan BGP terkait standar sertifikasi. Yang diwajibkan saat ini adalah SLHS (Surat Laik Higiene Sanitasi) dan prosesnya sudah hampir selesai.

Keterangan Tambahan dari Koordinator Dapur SPPG – Bapak Daman Hurip
Untuk saat ini, koordinasi dengan Satgas MBG di Kodim sudah berjalan, meskipun masih perlu ditingkatkan. Kadang informasi memang dilaporkan langsung ke Kodim, sehingga ke depan komunikasi akan lebih diperbaiki dan dipercepat.
Terkait perizinan, hingga kini baru dua sertifikasi yang sudah diarahkan dan dipenuhi, yaitu Sertifikat Halal dan SLHS (Surat Laik Higiene Sanitasi). Sementara untuk pemenuhan perizinan lainnya masih berproses dan terus dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten serta pihak terkait lainnya.
Untuk suplai bahan pangan hewani seperti daging ayam, kami mendapatkan pasokan dari pemasok yang sudah terdaftar di Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Setiap pemasok wajib memastikan dokumen legalitas serta sertifikat halalnya lengkap sebelum pasokan diterima oleh dapur.
Sistem Produksi:
Mulai persiapan pukul 03.00 dini hari
Pemorsian sepanjang 5 jam
Produksi makanan berlanjut hingga pagi
Proses pengemasan dilakukan sebelum distribusi sesuai jadwal makan di sekolah” pungkas Daman
Keterangan Petugas Dapur SPPG
“Saat ini proses distribusi menggunakan kendaraan operasional dapur dan masih dalam tahap peningkatan fasilitas, termasuk penyesuaian sistem penyimpanan suhu agar keamanan makanan tetap terjaga selama perjalanan.
Terkait Kendala Program Secara umum kendala yang dihadapi adalah:
Ada siswa yang tidak suka menu tertentu, sehingga makanan tidak segera dikonsumsi
Makanan dibawa pulang dan dimakan pada sore atau malam hari, sehingga kualitasnya sudah menurun
Ini menjadi fokus utama evaluasi agar kejadian keterlambatan konsumsi tidak terulang kembali.
Langkah Penanganan Kasus Pada kejadian di SMKN 2 Sumedang kemarin:
Klinik milik penyedia langsung dibuka untuk layanan darurat
Koordinasi dilakukan dengan puskesmas di wilayah siswa yang terdampak
Setiap laporan dari sekolah ditanggapi segera dan diarahkan untuk mendapatkan penanganan medis” pungkas salah satu petugas atau staf dapur SPPG
Harapan Kepala SPPG
“Harapan ke depannya lebih dari lima tahun yang ini berjalan dan untuk tujuannya itu sih meningkatkan… Masih Mungkin setelah Bapak Presiden, ini mungkin harapan diteruskan. Insya allah Ada penerusnya, untuk menanggapi kejadian di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Sumedang Masih di cek dan kami masih menunggu karena sample belum ada hasilnya jadi belum bisa menyimpulkan karena masih menunggu hasilnya,” Ungkapnya
